Sumber : Kutbah Jum'at
Masjid Allhamdulillah 21C Yosomulyo ,
Khotib Bp Ahmad Sodikin
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Marilah kita selalu mengulangi ucapan rasa syukur kepada
Allah karena nikmat-nikmat-Nya yang telah tercurahkan kepada kita semua
sehingga kesehatan jasmani dan rohani masih menghiasi kita. Semoga rasa syukur
yang kita panjatkan ini, menjadi kunci lebih terbukanya pintu-pintu
karunia-Nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka
Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S: IBRAHIM: 7)
Kami peringatkan juga para jamaah dan diri ini agar
senantiasa menjaga ketaqwaan, yakni dengan mengerjakan apa yang diperintahkan
dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah Swt, tentunya denga cara menauladani
Rasulullah SAW.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Melatar belakangi khutbah kita kali ini yakni hadits Nabi
Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal RA. Yang berbunyi:
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang
setelah adanya ilmu.”
Bukti bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amalan
Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu
Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)” Perkataan ini
merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan “ketahuilah” lalu
mengatakan ”mohonlah ampun”. Ketahuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk
berilmu terlebih dahulu, sebab untuk mengetahui harus dengan ilmu.
Sedangkan “mohonlah ampun” adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah
lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan
ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh
Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar
Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan,
“Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan
“ketahulah maksudnya ilmuilah”, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?”
(dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar, hal.108)
Al Muhallab rahimahullah dalam Syarh Al Bukhari libni
Baththol, hal. 144 mengatakan: “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang
terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat
niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini
bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu).
Ibnul Munir rahimahullah dalam Fathul Bari hal
108, berkata: “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat
benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak
teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu
didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat
nantinya yang akan memperbaiki amalan.”
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Keutamaan ilmu syar’i yang luar biasa
Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang
lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal.
Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i berikut akan membuat
kita lebih termotivasi dalam hal ini.
Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu
di akhirat dan di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang
berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang
mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari
hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al
Mujadalah: 11)
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak
dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita,
kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia
ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling
berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya
kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa
dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat
bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang
yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia
bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang
ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat
untukku.” Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya
dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama
tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya
merupakan orang shaleh, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal
sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar
meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang
dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini
merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli
ilmu.
Ketiga, ilmu adalah warisan para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham,
mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka dia telah
memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani
dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa
hadits ini shohih)
Keempat, orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh
kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh
kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang
Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah
agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah
tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.”
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Ilmu yang wajib dipelajari lebih dahulu
Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang
menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum
tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai
tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib
dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang
harus diketahui.
Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan
shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus
dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu
tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka
ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia
telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu
yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan,
adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia lakukan
tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena
Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya karena selain Allah
maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika dilatarbelakangi dengan aqidah
dan tauhid yang benar.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu
agar luruslah niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada
tuntunan. Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan
mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam kitab Al Amru bil
Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15 mengatakan:
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu,
maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”
Hal ini sebagaimana terjadi pada kaum Quraiys ketika
menjawab seruan Nabi Muhammad SAW untuk menyembah Allah Swt, akan tetapi dengan
pengetahuan mereka membantah seruan Nabi Muhammad SAW. Dengan mengatakan
bukankah Agama yang kami sembah selama ini adalah agama nenek moyang kita
(menyembah Lata dan Uza)”. Ini merupakan suatu contoh beramal tanpa berilmu
yang benar.
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar
tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah dalam Majmu’
Alfatawa hal. 567 mengatakan:
“Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang
dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang
rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang
Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)
Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap
amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga
Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang
diterima, dan rizki yang thoyib. Amin yarobbal alamin...