Jumat, 26 September 2014

BERILMU SEBELUM BERAMAL

Sumber : Kutbah Jum'at 
Masjid Allhamdulillah 21C Yosomulyo ,
Khotib Bp Ahmad Sodikin


Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;

Marilah kita selalu mengulangi ucapan rasa syukur kepada Allah karena nikmat-nikmat-Nya yang telah tercurahkan kepada kita semua sehingga kesehatan jasmani dan rohani masih menghiasi kita. Semoga rasa syukur yang kita panjatkan ini, menjadi kunci lebih terbukanya pintu-pintu karunia-Nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S: IBRAHIM: 7)
Kami peringatkan juga para jamaah dan diri ini agar senantiasa menjaga ketaqwaan, yakni dengan mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah Swt, tentunya denga cara menauladani Rasulullah SAW.

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Melatar belakangi khutbah kita kali ini yakni hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal RA. Yang berbunyi:
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” 
Bukti bahwa ilmu lebih didahulukan daripada amalan
Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)” Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan “ketahuilah” lalu mengatakan ”mohonlah ampun”. Ketahuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu  terlebih dahulu, sebab untuk mengetahui harus dengan ilmu. Sedangkan “mohonlah ampun” adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan “ketahulah maksudnya ilmuilah”, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar, hal.108)
Al Muhallab rahimahullah dalam Syarh Al Bukhari libni Baththol, hal. 144 mengatakan: “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu).
Ibnul Munir rahimahullah dalam Fathul Bari hal 108, berkata: “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.”
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Keutamaan ilmu syar’i yang luar biasa
Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal. Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.
Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia
Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.
Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku.” Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shaleh, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.

Ketiga, ilmu adalah warisan para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam  Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Keempat, orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.”

Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Ilmu yang wajib dipelajari lebih dahulu
Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.
Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah;
Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan. Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz  dalam kitab Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15 mengatakan:
 “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”
Hal ini sebagaimana terjadi pada kaum Quraiys ketika menjawab seruan Nabi Muhammad SAW untuk menyembah Allah Swt, akan tetapi dengan pengetahuan mereka membantah seruan Nabi Muhammad SAW. Dengan mengatakan bukankah Agama yang kami sembah selama ini adalah agama nenek moyang kita (menyembah Lata dan Uza)”. Ini merupakan suatu contoh beramal tanpa berilmu yang benar.
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah dalam Majmu’ Alfatawa hal. 567 mengatakan:
“Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)
Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang diterima, dan rizki yang thoyib. Amin yarobbal alamin...

Jumat, 19 September 2014

Khutbah Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Sumber : Kutbah Jum'at 
Masjid 
Adda'wah

 22 Hadimulyo ,
Khotib Amirul S.Pdi

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita
ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala
pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri
nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam
menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk
amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita
akan memasuki bulan Dzulhijjah 1433 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar
dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain,
yakni madrasah Dzulhijjah.
Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar
yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping
ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua
untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang
menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil
nilai-nilai tarbiyah dan meraih keutamaan yang ada di dalamnya.
Khutbah Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama Dakwah 3
Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di
tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang
luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan
hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga
bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan
derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau
mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak
membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan
kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 211 ribu
diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai
hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya
antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun
jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai
manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan
membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang
paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita
untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang
mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada
kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-
Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim
dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh
Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam
shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya
regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada
syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya
memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang
beriman.
Khutbah Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama Dakwah 4
Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada
Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah
kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman,
begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah
yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan
fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan.
Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah,
dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1433 H ini belum mampu
menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak
keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah
sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits
yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah,
berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari
pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat
pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi
sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi
sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak
satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid). (HR. Jamaah kecuali
Muslim dan Nasai)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
Khutbah Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama Dakwah 5
Tidak ada hari-hari yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai
untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga
kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil,
takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah
sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya
sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama
nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu
Majah, dan Baihaqi)
Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi
mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus
wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang
yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a: .
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa
itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada
hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api
neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’
menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang
berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih
dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya:
disunnahkan makan setelah shalat id.
Khutbah Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama Dakwah 6
Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban.
Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya
qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses
taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk
menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta
sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih
dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak
pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku
kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya
telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1433 ini
semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha,
rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak
di surga.

Jumat, 12 September 2014

EMPAT PERKARA YANG TIDAK MERUGIKAN



Sumber : Kutbah Jum'at 



Masjid 
Adda'wah









 22 Hadimulyo ,

Khotib 
Bp Ansori

Sidang Jumat yang berbahagia.

Di dalam majelis yang mulia ini, mari, kita berusaha sungguh-sungguh menghaturkan syukur kehadirat Allah Swt. Kita didik diri kita untuk tidak bosan-bosannya menjadi jiwa yang pandai bersyukur. Betapa tidak, hidayah dan karunia-Nya yang telah diberikan pada kita, sungguh tak terhingga banyaknya. Namun bila yang terjadi sebaliknya, kita tidak berusaha sungguh-sungguh menjadi insan yang pandai syukur, tentu kita menjadi hamba yang melampaui batas dan menjadi golongannya orang-orang yang sangat merugi. Mendidik diri dan menghaturkan rasa syukur kepada Allah, praktiknya adalah dibarengi dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak amal sholeh, lebih giat dan tekun dalam belajar, bekerja sungguh-sungguh sesuai profesi masing-masing yang dijalani hingga saat ini. Bekerja secara sungguh-sungguh sesuai bidang garapan ini sangat penting. Sebab, semua perkara dunia, kalaulah tidak ditumemeni dalam menjalani, tentu hasilnya kurang baik. Mungkin jadi malah gagal tanpa hasil. Apalagi perkara yang langsung tembus akherat, tentu harus lebih sungguh-sungguh agar mendapat point positif disisi Yang Maha Kuasa.

Jamaah Jumat rahimakumullah
Setiap orang, apalagi sebagai muslim, pasti menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Karenanya, ia akan berusaha untuk meraih keberuntungan itu. Baik keberuntungan yang berupa materi, kepercayaan dari orang lain, jabatan atau pekerjaan tertentu, popularitas, penghargaan dari sesama, nama baik, rapor ataupun nilai yang memuaskan, dan sebagainya. Berbagai macam keinginan tersebut tentunya tidak semua bisa terpenuhi. Sangat tergantung pada hidayah dan karunia Tuhan semata. Namun berusaha dengan sungguh-sungguh adalah tuntutan yang harus dijalani.
Bagi muslim yang khusyuk, manakala keinginan duniawi tersebut tidak terpenuhi, ia tidak akan menganggap hidupnya sia-sia, apalagi sampai putus asa. Ia tidak merasa hal itu sebagai kerugian yang besar. Masih ada harapan yang lebih mulia untuk diraih, yakni ridha Allah dan jaminan mulia disisi-Nya. Sebab menyadari sepenuhnya bahwa yang dikatakan merugi adalah bila tidak bisa menjalankan perintah-Nya dengan baik, yakni dalam hal beriman dan beramal sholeh, nasihat menasehati dijalan al-haqNya, dan nasehat menasehati di dalam kesabaran (QS. Al ’Ashr 3).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Melengkapi sekaligus menguatkan keimanan kita, khususnya ketika keinginan duniawi tidak terpenuhi, dengan harapan jangan sampai mudah terjebak dalam penyesalan serta kerugian yang berkelanjutan, Nabi Saw memberikan resep khusus. Nabi SAW bersabda yang artinya : Empat perkara, apabila keempatnya ada padamu, maka tidak merugikan engkau dari apa yang tidak engkau peroleh dari dunia, yaitu: benar dalam berbicara, menjaga amanat, akhlak yang baik, dan tidak serakah dalam makanan (HR. Ahmad, Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi).
Resep pertama adalah benar dalam berbicara. Bicara yang benar merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Orang yang kaya,  populer, tinggi kedudukannya bahkan dianggap terhormat di masyarakat, tapi tidak benar dalam berbicara, maka menjadi rendah kedudukannya dihadapan sesama, dan bahkan sangat hina dihadapan Allah. Oleh karena itu, kita sebagai muslim harus bisa menjaga lidah, dan benar dalam berbicara. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa setiap pembicaraan ada pertanggungan jawab dihadapan Allah Swt. Karenanya, ucapan kita akan dicatat oleh Malaikat yang selalu menyertai di kanan dan kiri kita. Sebagaimana firman Allah :
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qaaf [50]:18).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep kedua adalah menjaga amanat. Kehidupan dunia ini tak lepas dari amanat. Jasmani yang sehat, harta yang dimiliki, ilmu yang dikuasai, kedudukan yang sekarang diduduki, itu semua merupakan amanat yang diberikan Allah yang harus kita jalani. Belum lagi kepercayaan yang diberikan orang lain dalam berbagai hal. Semua amanat itu harus dijaga, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila yang terjadi sebaliknya, tidak melaksanakan amanat dengan baik, maka dianggap tidak memiliki agama, meskipun nyatanya mengaku sebagai penganut agama. Sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya: Tidak beriman orang yang tidak memegang amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati (HR. Ahmad).
Realisasi menjaga amanat ini adalah; manakala kita memiliki harta, menunaikan amanatnya adalah dalam bentuk membelanjakan di jalan ridho-Nya. Jasmani yang sehat untuk mengabdi kepada Allah dan berjuang di jalan lurus-Nya. Ilmu yang dikuasai dengan menularkan kepada sesama, serta untuk meningkatkan martabat kehidupan sesama. Sedang kedudukan yang ada sekarang, sebagai salah satu sarana untuk menegakkan kebenaran, serta memudahkan menyampaikan visi-misi kebenaran.

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep ketiga adalah akhlak yang baik. Akhlak yang baik merupakan kekayaan yang paling mahal harganya. Karena itulah Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Termasuk akhlak kita, menjadi obyek yang Beliau perbaiki. Itu pula sebabnya, manakala orang tua telah mendidik akhlak anaknya dengan baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian harta atau materi, sekalipun yang paling mahal. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik (HR. Tirmidzi).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep keempat adalah tidak serakah. Istilah lainnya adalah nrima ing pandum. Nrima dengan lilo legowo atas segala pemberian yang diberikan Tuhan. Walaupun pemberian itu amat sedikit dibanding yang diterima oleh orang lain, diterima dengan ikhlas. Inilah realitas bersyukur. Bilamana demikian, sebagaimana janji-Nya, akan mendapatkan keberuntungan yang besar. Walaupun secara fisik tampaknya bisa jadi sedikit, tetapi pada sisi yang lain, akan mendapatkan keberuntungan yang besar. Semisal dilapangkan dadanya, dijadikan istikomah hatinya, dimudahkan berbagai macam urusannya, dan lain sebagainya. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim[14]:7).

Kebalikan dari bersyukur  adalah serakah atau tamak. Ia merupakan sifat yang tercela. Tidak mengenal istilah puas menerima pemberian-Nya. Ia bisa tumbuh dan berkembang pesat bagaikan virus canggih yang dapat melakukan mutasi sendiri. Misalnya tega dan mentalan. Tidak peduli pada sesama. Bahkan yang parah, akan menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi yang diinginkan, merampas hak-hak orang lain. Korupsi kolusi ngapusi nepotisme dan berbagai bentuk penyelewengan lainnya. Orang yang tamak akan mengalami kerugian bagi dirinya sendiri dan merugikan orang lain. Ia tidak memiliki rasa optimis terhadap hari-hari mendatang. Selalu curiga terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, yang pada akhirnya tidak disukai oleh sesamanya dan dibenci Tuhan.

Jamaah Jumat yang berbahagia
Selain keempat resep di atas yang bisa menjadikan kita beruntung ketika harta maupun perihal duniawi lainnya lepas dari tangan kita, Nabi SAW memberi tips agar dicintai Allah dan dicintai manusia. Beliau bersabda yang artinya: Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah, dan janganlah tamak terhadap apa yang di tangan orang lain, niscaya kamu akan disenangi manusia (HR. Ibnu Majah).
Zuhud disini bukan berarti meninggalkan atau bahkan tidak memakai dunia sama sekali. Melainkan hatinya-lah yang meninggalkan dunia. Hatinya diperdi untuk melupakan dunia. Hati dibelajari untuk tidak mencintai dunia, dengan menafikannya. Sementara lahirnya sesuai dengan profesi, kedudukan, maupun tanggung jawab masing-masing. Sehingga berdunia-nya hanya sak dermo saja, sekedar menjalani apa yang harus dijalani, semata-mata demi subhanaka. Laa haula wala quwwata illa billahil’aliyyil ’adzim.  Semoga kita digolongkan menjadi hamba sebagaimana yang diharapkan Nabi SAW seperti halnya uraian di atas. Dan diberi pemahaman berlebih, dikuatkan menjalani, yang akhirnya dimantapkan menapaki jalan para kekasih-Nya. Amin.