Sumber : Kutbah Jum'at
Masjid Adda'wah 22 Hadimulyo ,
Khotib
Bp Abas
Khutbah Pertama
Kaum Muslimin rahimakumullah
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya takwa kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bekal terbaik bagi setiap
orang yang mengharap rahmat-Nya. dengan takwa, seseorang akan mendapatkan
rezeki dari arah yang tidak disangka dan dia akan mendapatkan kemudahan setelah
kesusahan, dan kelapangan setelah kesempitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أ“Ingatlah sesungguhnya
wali-wali (kekasih-kekasih Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula)mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)
Kaum Muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya pengetahuan manusia, keinginan, dan watak mereka
itu berbeda-beda meskipun mereka berasal dari bapak dan ibu yang sama (yaitu
Nabi Adam dan Hawa). Dan sebenarnya ini merupakan ujian, sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi yang
lain.Sanggupkah kamu bersabar Dan Rabbmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)
Sebagian orang ada yang berkepribadian bijak, arif dan penuh
toleran. Dia tidak mudah emosi dengan sedikit kalimat yang dia dengar.
Sebagian lagi, ada juga yang ceroboh, nekat, mudah tertipu,
tidak sabar, mudah tersulut perkataan lalu berlaku konyol. Lisan dan
tindak-tanduknya mendahului akalnya.
Kaum Muslimin rahimakumullah
Seorang Mukmin adalah seorang juru damai yang agung, yang bisa
menghimpun bukan memecah belah, yang memperbaiki bukan merusak; bijak dalam
mendamaikan pihak yang bertikai. Dan sebagai imbal baliknya, banyak orang yang
mendoakan kebaikan untuknya dan memujinya karena dia telah mendamaikan dan
menyelamatkan dari perpecahan.
Orang yang memperhatikan realita saat ini, dia akan dapati
adanya keretakan yang menggores kemurnian kecintaan dan jalinan persaudaraan.
Hal ini nampak dari hawa nafsu yang dituruti, kebakhilan dan ketamakan yang
diikuti, dan kebanggaan terhadap pendapat sendiri.
Sungguh benar Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
beliau bersabda:
Sesungguhnya syaitan telah putus asa dari (mendapatkan)
penyembahan dari orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi dia akan
selalu mengadu domba di antara mereka. (HR. Muslim no. 2812).
Ketika terjadi pertengkaran dan pertikaian, maka perdamaian
menjadi suatu yang sangat terpuji. Jika perselisihan adalah keburukan,
pertengkaran dan pertikaian adalah aib, maka sebaliknya, perdamaian dan usaha
mendamaikan adalah sebuah rahmat. Meski perbedaan pendapat pada manusia adalah
hal yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana
firman-Nya:
“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat
yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud: 118)
Namun Allah mengecualikan darinya orang-orang yang mendapat
rahmat-Nya.
“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” (QS. Hud:
119)
Perdamaian yang terwujud pada umat akan menjadikannya indah,
namun jika hilang maka berbagai keburukan tidak akan terhindarkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan
diantara sesamamu.(al-Anfal: 1)
Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka
kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,
atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia.” (QS. An-Nisa:
114)
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang
maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al-Hujurat: 9)
“Sesugguhnya orang-orang mukmin adalah saudara.” (QS.
Al-Hujurat: 10)
Dan sungguh tidak ada di dunia juru damai yang sekelas dengan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau mendamaikan
suku-suku, antar individu-individu dan kelompok masyarakat. Beliau juga
mendamaikan pasangan suami-istri, dua orang yang berutang-piutang, dan juga
juru damai dalam penegakkan hak harta, nyawa dan kehormatan. Bagaimana tidak,
padahal beliau sendiri bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama
daripada puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab, “Tentu wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu mendamaikan perselisihan diantara kamu,
karena rusaknya perdamaian diantara kamu adalah pencukur (perusak agama).” (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi)
Disebutkan di dalam sebuah hadits;
Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa penduduk Quba’
telah bertikai hingga saling lempar batu, lalu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dikabarkan tentang peristiwa itu, maka beliau
bersabda: Mari kita pergi untuk mendamaikan mereka. (HR. al-Bukhari)
Khutbah Kedua:
Wahai kaum Muslimin, semoga Allah selalu menjaga kita semua.
Sesungguhnya perdamaian termasuk diantara sebab munculnya rasa
cinta dan perekat keretakan. Terkadang perdamaian itu lebih baik daripada hukum
yang diputuskan hakim. Dalam perdamaian, ada pahala dari AllahSubhanahu wa
Ta’ala dan ada dosa yang dihapuskan. Termasuk didalamnya, pertikaian
dalam rumah tangga.
Namun untuk kita sadar bersama, bahwa semua upaya damai itu
tidak akan terwujud kecuali dibarengi keinginan kuat yang nyata serta niat
tulus dari semua pihak, antara juru damai dan yang didamaikan. Karena AllahSubhanahu
wa Ta’ala mengaitkan perdamaian itu dengan adanya kemauan yang baik
dari semua pihak. AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan,
niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu.” (QS. An-Nisa: 35)
Suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah didatangi oleh
dua orang yang bertikai dari Tsaqif. Lalu sang Imam berkata, “Kalian berdua
masih satu kelompok dan satu kerabat, (kenapa) masih saja bertikai?” mereka
menjawab, “Wahai Abu Sa’id, kami hanya ingin damai. “Beliau rahimahullah
berkata, “Ya. Kalau begitu kalian bicaralah!” Akan tetapi keduanya malah saling
melempar tuduhan dusta ke lawannya. Melihat ini, sang Imam menjawab, “Demi
Allah! Kalian dusta! Bukan perdamaian yang kalian inginkan, karena Allah Subhanahu
wa Ta’alaberfirman yang artinya: “Jika kedua orang hakim itu bermaksud
mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu.” (QS.
An-Nisa: 35)
Oleh karenanya bertakwalah wahai para hamba Allah! Sudahi dan
hentikanlah pertengkaran dan pertikaian, terutama yang disebabkan hal-hal
remeh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS.
Asy-Syura: 40)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi
saya dan anda semuanya dengan al-Qur’an dan mencurahkan manfaat dari isinya
berupa ayat-ayat dan hikmahNya yang Maha Bijak. Itulah yang aku ucapkan, jika
itu benar maka kebenaran dari Allah. Jika ada yang salah maka dari diri saya
sendiri dan dari syetan. Dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya Ia
Maha Pengampun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar