Jumat, 12 September 2014

EMPAT PERKARA YANG TIDAK MERUGIKAN



Sumber : Kutbah Jum'at 



Masjid 
Adda'wah









 22 Hadimulyo ,

Khotib 
Bp Ansori

Sidang Jumat yang berbahagia.

Di dalam majelis yang mulia ini, mari, kita berusaha sungguh-sungguh menghaturkan syukur kehadirat Allah Swt. Kita didik diri kita untuk tidak bosan-bosannya menjadi jiwa yang pandai bersyukur. Betapa tidak, hidayah dan karunia-Nya yang telah diberikan pada kita, sungguh tak terhingga banyaknya. Namun bila yang terjadi sebaliknya, kita tidak berusaha sungguh-sungguh menjadi insan yang pandai syukur, tentu kita menjadi hamba yang melampaui batas dan menjadi golongannya orang-orang yang sangat merugi. Mendidik diri dan menghaturkan rasa syukur kepada Allah, praktiknya adalah dibarengi dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak amal sholeh, lebih giat dan tekun dalam belajar, bekerja sungguh-sungguh sesuai profesi masing-masing yang dijalani hingga saat ini. Bekerja secara sungguh-sungguh sesuai bidang garapan ini sangat penting. Sebab, semua perkara dunia, kalaulah tidak ditumemeni dalam menjalani, tentu hasilnya kurang baik. Mungkin jadi malah gagal tanpa hasil. Apalagi perkara yang langsung tembus akherat, tentu harus lebih sungguh-sungguh agar mendapat point positif disisi Yang Maha Kuasa.

Jamaah Jumat rahimakumullah
Setiap orang, apalagi sebagai muslim, pasti menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Karenanya, ia akan berusaha untuk meraih keberuntungan itu. Baik keberuntungan yang berupa materi, kepercayaan dari orang lain, jabatan atau pekerjaan tertentu, popularitas, penghargaan dari sesama, nama baik, rapor ataupun nilai yang memuaskan, dan sebagainya. Berbagai macam keinginan tersebut tentunya tidak semua bisa terpenuhi. Sangat tergantung pada hidayah dan karunia Tuhan semata. Namun berusaha dengan sungguh-sungguh adalah tuntutan yang harus dijalani.
Bagi muslim yang khusyuk, manakala keinginan duniawi tersebut tidak terpenuhi, ia tidak akan menganggap hidupnya sia-sia, apalagi sampai putus asa. Ia tidak merasa hal itu sebagai kerugian yang besar. Masih ada harapan yang lebih mulia untuk diraih, yakni ridha Allah dan jaminan mulia disisi-Nya. Sebab menyadari sepenuhnya bahwa yang dikatakan merugi adalah bila tidak bisa menjalankan perintah-Nya dengan baik, yakni dalam hal beriman dan beramal sholeh, nasihat menasehati dijalan al-haqNya, dan nasehat menasehati di dalam kesabaran (QS. Al ’Ashr 3).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Melengkapi sekaligus menguatkan keimanan kita, khususnya ketika keinginan duniawi tidak terpenuhi, dengan harapan jangan sampai mudah terjebak dalam penyesalan serta kerugian yang berkelanjutan, Nabi Saw memberikan resep khusus. Nabi SAW bersabda yang artinya : Empat perkara, apabila keempatnya ada padamu, maka tidak merugikan engkau dari apa yang tidak engkau peroleh dari dunia, yaitu: benar dalam berbicara, menjaga amanat, akhlak yang baik, dan tidak serakah dalam makanan (HR. Ahmad, Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi).
Resep pertama adalah benar dalam berbicara. Bicara yang benar merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Orang yang kaya,  populer, tinggi kedudukannya bahkan dianggap terhormat di masyarakat, tapi tidak benar dalam berbicara, maka menjadi rendah kedudukannya dihadapan sesama, dan bahkan sangat hina dihadapan Allah. Oleh karena itu, kita sebagai muslim harus bisa menjaga lidah, dan benar dalam berbicara. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa setiap pembicaraan ada pertanggungan jawab dihadapan Allah Swt. Karenanya, ucapan kita akan dicatat oleh Malaikat yang selalu menyertai di kanan dan kiri kita. Sebagaimana firman Allah :
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qaaf [50]:18).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep kedua adalah menjaga amanat. Kehidupan dunia ini tak lepas dari amanat. Jasmani yang sehat, harta yang dimiliki, ilmu yang dikuasai, kedudukan yang sekarang diduduki, itu semua merupakan amanat yang diberikan Allah yang harus kita jalani. Belum lagi kepercayaan yang diberikan orang lain dalam berbagai hal. Semua amanat itu harus dijaga, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila yang terjadi sebaliknya, tidak melaksanakan amanat dengan baik, maka dianggap tidak memiliki agama, meskipun nyatanya mengaku sebagai penganut agama. Sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya: Tidak beriman orang yang tidak memegang amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati (HR. Ahmad).
Realisasi menjaga amanat ini adalah; manakala kita memiliki harta, menunaikan amanatnya adalah dalam bentuk membelanjakan di jalan ridho-Nya. Jasmani yang sehat untuk mengabdi kepada Allah dan berjuang di jalan lurus-Nya. Ilmu yang dikuasai dengan menularkan kepada sesama, serta untuk meningkatkan martabat kehidupan sesama. Sedang kedudukan yang ada sekarang, sebagai salah satu sarana untuk menegakkan kebenaran, serta memudahkan menyampaikan visi-misi kebenaran.

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep ketiga adalah akhlak yang baik. Akhlak yang baik merupakan kekayaan yang paling mahal harganya. Karena itulah Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Termasuk akhlak kita, menjadi obyek yang Beliau perbaiki. Itu pula sebabnya, manakala orang tua telah mendidik akhlak anaknya dengan baik, itu menjadi pemberian yang paling berharga ketimbang pemberian harta atau materi, sekalipun yang paling mahal. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: Tidak ada pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pendidikan adab (akhlak) yang baik (HR. Tirmidzi).

Jamaah Jumat yang berbahagia
Resep keempat adalah tidak serakah. Istilah lainnya adalah nrima ing pandum. Nrima dengan lilo legowo atas segala pemberian yang diberikan Tuhan. Walaupun pemberian itu amat sedikit dibanding yang diterima oleh orang lain, diterima dengan ikhlas. Inilah realitas bersyukur. Bilamana demikian, sebagaimana janji-Nya, akan mendapatkan keberuntungan yang besar. Walaupun secara fisik tampaknya bisa jadi sedikit, tetapi pada sisi yang lain, akan mendapatkan keberuntungan yang besar. Semisal dilapangkan dadanya, dijadikan istikomah hatinya, dimudahkan berbagai macam urusannya, dan lain sebagainya. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim[14]:7).

Kebalikan dari bersyukur  adalah serakah atau tamak. Ia merupakan sifat yang tercela. Tidak mengenal istilah puas menerima pemberian-Nya. Ia bisa tumbuh dan berkembang pesat bagaikan virus canggih yang dapat melakukan mutasi sendiri. Misalnya tega dan mentalan. Tidak peduli pada sesama. Bahkan yang parah, akan menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi yang diinginkan, merampas hak-hak orang lain. Korupsi kolusi ngapusi nepotisme dan berbagai bentuk penyelewengan lainnya. Orang yang tamak akan mengalami kerugian bagi dirinya sendiri dan merugikan orang lain. Ia tidak memiliki rasa optimis terhadap hari-hari mendatang. Selalu curiga terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, yang pada akhirnya tidak disukai oleh sesamanya dan dibenci Tuhan.

Jamaah Jumat yang berbahagia
Selain keempat resep di atas yang bisa menjadikan kita beruntung ketika harta maupun perihal duniawi lainnya lepas dari tangan kita, Nabi SAW memberi tips agar dicintai Allah dan dicintai manusia. Beliau bersabda yang artinya: Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah, dan janganlah tamak terhadap apa yang di tangan orang lain, niscaya kamu akan disenangi manusia (HR. Ibnu Majah).
Zuhud disini bukan berarti meninggalkan atau bahkan tidak memakai dunia sama sekali. Melainkan hatinya-lah yang meninggalkan dunia. Hatinya diperdi untuk melupakan dunia. Hati dibelajari untuk tidak mencintai dunia, dengan menafikannya. Sementara lahirnya sesuai dengan profesi, kedudukan, maupun tanggung jawab masing-masing. Sehingga berdunia-nya hanya sak dermo saja, sekedar menjalani apa yang harus dijalani, semata-mata demi subhanaka. Laa haula wala quwwata illa billahil’aliyyil ’adzim.  Semoga kita digolongkan menjadi hamba sebagaimana yang diharapkan Nabi SAW seperti halnya uraian di atas. Dan diberi pemahaman berlebih, dikuatkan menjalani, yang akhirnya dimantapkan menapaki jalan para kekasih-Nya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar