Sumber : Kutbah Jum'at
Masjid
22 Hadimulyo ,
Adda'wah
22 Hadimulyo ,
Khotib Amirul S.Pdi
Jama’ah
Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala
puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita
ucapkan
setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala
pujian
yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri
nikmat-nikmat
itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam
menjalankan
ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk
amal
itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal
muslimuun hafidzakumullah,
Kita
saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita
akan
memasuki bulan Dzulhijjah 1433 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar
dari
madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain,
yakni
madrasah Dzulhijjah.
Mengapa
disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar
yang
sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di
samping
ada
pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal
muslimuun rahimakumullah,
Karenanya,
melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua
untuk
mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang
menjumpai
kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil
nilai-nilai
tarbiyah dan meraih keutamaan yang ada di dalamnya.
Khutbah
Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama
Dakwah 3
Haji
Saat
ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di
tanah
suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang
luar
biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan
hanya
bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga
bagi
kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara
pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan
derajat
manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau
mendukung
diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak
membedakan
manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan
kekuasaannya.
Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 211 ribu
diantaranya
dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai
hamba
Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya
antara
direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun
jabatan
seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita
pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai
manusia
di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan
membuat
seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
Sesungguhnya
manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang
paling
bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat
ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita
untuk
terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang
mengumpulkan
bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada
kita
untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
Dan
berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-
Baqarah
: 197)
Jama’ah
Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain
nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim
dan
keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh
Nabi
Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam
shalat.
Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya
regenerasi
ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada
syaitan,
yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya
memang
tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang
beriman.
Khutbah
Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama
Dakwah 4
Lebih
dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada
Allah
sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah
kita
harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman,
begitulah
ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah
yang
sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan
fisik
yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan.
Maka,
sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah,
dan
ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
Haji
yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu
bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1433 H ini belum mampu
menunaikan
haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak
ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi
kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak
keutamaan
di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah
sampai
dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits
yang
menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah,
berdzikir,
tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah
SAW bersabda:
Tidak
ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari
pada
hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat
pun
bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi
sabilillah?”
Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi
sabilillah,
kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak
satu
pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid). (HR. Jamaah kecuali
Muslim
dan Nasai)
Dalam
hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
Khutbah
Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama
Dakwah 5
Tidak
ada hari-hari yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai
untuk
digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga
kesepuluh
Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil,
takbir,
dan tahmid. (HR. Ahmad)
Tidak
ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah
sebagaimana
halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya
sama
dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama
nilainya
dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu
Majah,
dan Baihaqi)
Puasa
Arafah
Ayyuhal
muslimuun hafidzakumullah,
Puasa
ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi
mereka
para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus
wukuf
di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang
yang
sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan
puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a: .
Rasulullah
SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa
itu
menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah,
luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada
hari
Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
Tidak
ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api
neraka
yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat
Idul Adha
Ikhwatal
iman yahdikumullah,
Amal
khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’
menjelaskan
bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang
berpendapat
hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih
dahulu
sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya:
disunnahkan
makan setelah shalat id.
Khutbah
Jum'at Meraih Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Bersama
Dakwah 6
Berqurban
Ayyuhal
muslimuun rahimakumullah,
Amal
lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban.
Ibadah
qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya
qurban
pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses
taurits
di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk
menyembelih
Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta
sebagai
bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan
qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
Tidak
ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih
dicintai
oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak
pada
hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku
kukunya.
Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya
telah
diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah
amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1433 ini
semakin
mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha,
rahmat,
dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak
di
surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar